20090120

TOKOH TEATER EROPA

Henrik Ibsen

Nama pena Brynjolf Bjarme (awal-awal)

Pekerjaan Penulis sandiwara, penyair, sutradara teater

Kebangsaan Norwegia

Aliran Realism sosial

Karya terkenal Peer Gynt (1867), A Doll's House (1879), Ghosts (1881),

The Wild Duck (1884), Hedda Gabler (1890)

Henrik Johan Ibsen

(20 Maret 182823 Mei 1906) adalah seorang dramatis Norwegia yang berpengaruh. Ia berperan besar dalam perkembangan drama realistik dan dijuluki sebagai "bapak drama modern"). Ada yang mengatakan bahwa Ibsen adalah pengarang drama yang karyanya paling banyak dipentaskan di dunia setelah Shakespeare. Meskipun ia banyak tinggal di pengasingan, di Jerman dan Italia, Ibsen tetap dianggap sebagai pengarang terbesar Norwegia dari sepanjang masa. Ia dianggap sebagai lambang nasional oleh bangsa Norwegia, dan merupakan salah seorang dramatis terpenting dalam sejarah dunia.

Pada masa hidupnya, drama-dramanya seringkali dianggap skandal, ketika nilai-nilai Victoria dijunjung tinggi dalam kehidupan keluarga dan kepatutan di Eropa. Setiap tantangan terhadapnya dianggap tidak bermoral dan membangkitkan kemarahan. Karya Ibsen menyelidiki realitas-realitas yang ada di balik banyak tembok, dan isinya banyak membongkar hal-hal yang membangkitkan kegelisahan banyak orang sezamannya.

Ibsen mendirikan drama modern dengan memperkenalkan mata yang kritis dan penelitian yang bebas ke dalam kondisi-kondisi kehidupan serta masalah-masalah moralitas. Drama-drama zaman Victoria yang umum pada masa itu diharapkan menampilkan kisah-kisah moral dengan tokoh-tokohnya yang mulia dipertarungkan melawan kekuatan-kekuatan gelap. Setiap drama diharapkan berakhir dengan kesimpulan yang secara moral dianggap layak, dalam arti bahwa kebaikan pasti akan menghasilkan kebahagiaan, dan imoralitas hanya akan menghasilkan penderitaan. Ibsen menantang pemahaman dan keyakinan zamannya ini serta menghancurkan ilusi para penontonnya.

Keluarga dan masa kecil

Henrik Ibsen dilahirkan dalam keluarga Knud Ibsen dan Marichen Altenburg, sebuah keluarga pedagang yang relatif cukup kaya, di sebuah kota pelabuhan kecil Skien, Norwegia, yang terutama terkenal sebagai tempat mengapalkan kayu. Hendrik adalah keturunan dari sejumlah keluarga tertua dan paling terkemuka di Norwegia, seperti halnya keluarga Paus. Namun tak lama setelah ia lahir, peruntungan keluarganya berubah menjadi buruk. Ibunya berpaling pada agama untuk mencari penghiburan, sementara kondisi ayahnya merosot hingga mengalami depresi. Tokoh-tokoh dalam drama-drama Ibsen seringkali mencerminkan orangtuanya, dan tema-temanya seringkali berkaitan dengan masalah kesulitan keuangan serta konflik-konflik moral yang muncul dari rahasia-rahasia pribadi yang gelap tersembunyi dari masyarakat.

Pada usia 15 tahun, Ibsen meninggalkan keluarganya. Ia pindah ke kota kecil Grimstad untuk magang menjadi ahli farmasi dan mulai menulis drama. Pada 1846, ia memperoleh anak gelap dengan seorang pembantu rumah tangga, namun anak itu ditolaknya. Ibesn pindah ke Christiania (belakangan diubah namanya menjadi Oslo) dengan maksud masuk ke universitas. Tak lama kemudian ia menyingkirkan rencananya itu (usaha-usahanya mula-mula untuk masuk ke universitas gagal karena ia tidak berhasil lulus dalam semua ujian masuknya), dan memilih untuk hidup dari menulis. Dramanya yang pertama, tragedi Catilina (1850), diterbitkan dengan pseudonym Brynjolf Bjarme, ketika usianya baru 22 tahun, namun drama itu tidak dipertunjukkan. Dramanya yang pertama dipentaskan Gundukan Makam (1850), tidak banyak memperoleh perhatian. Namun demikian, Ibsen bertekad untuk menjadi seorang pengarang drama, meskipun selama bertahun-tahun ia tidak menulis lagi.

Kehidupan dan tulisan

Ibsen melewati beberapa tahun berikutnya dengan bekerja di Teater Norwegia di Bergen, dan di situ ia terlibat dalam produksi lebih dari 145 drama sebagai penulis, sutradara, dan produsernya. Pada masa ini ia tidak menerbitkan drama-dramanya yang baru. Meskipun Ibsen gagal mencapai keberhasilan sebagai pengarang drama, ia memperoleh banyak pengalaman praktis di Teater Norwegia, pengalaman yagn kelak terbukti berharga ketika ia kembali menulis.

Ibsen kembali ke Christiania pada 1858 untuk menjadi direktur kreatif dari Teater Nasional Christiania. Ia menikah dengan Suzannah Thoresen pada tahun yang sama dan memperoleh anak tunggal mereka, Sigurd. Pasangan ini hidup dalam keadaan keuangan yang sangat kekurangan dan Ibsen menjadi sangat kecewa dengan kehiudpan di Norwegia. Pada 1864 ia meninggalkan Christiania dan pergi ke Italia untuk mengasingkan diri. Ia baru kembali ke negeri kelahirannya setelah 27 tahun kemudian. Ketika kembali, ia telah menjadi seorang pengarang drama yang terkenal, betapapun kontroversialnya.

Karya dramanya yang berikut, Brand (1865), menghasilkan pujian kritis yang diharapkannya, bersamaan dengan sukses keuangan, seperti halnya dengan dramanya yang berikut, Peer Gynt (1867). Untuk drama ini Edvard Grieg mengarang musik yang terkenal.

Dengan keberhasilan ini, Ibsen menjadi lebih percaya diri dan mulai semakin banyak memperkenalkan gagasan-gagsan dan penilaiannya ke dalam drama, menjajaki apa yang disebutnya sebagai "drama gagasan-gagasan." Rangkaian dramanya yang berikutnya seringkali dianggap sebagai Zaman Keemasannya, ketika ia memasuki puncak kekuatan dan pengaruhnya, dan menjadi pusat kontroversi dramatis di seluruh Eropa.


Ibsen telah sama sekali menulis ulang aturan-aturan drama dengan suatu realisme yang kelak diadopsi oleh Chekhov dan orang-orang lainnnya dan yang kita lihat di panggung drama hingga sekarang. Sejak Ibsen hingga kini, menantang asumsi dan berbicara langsung mengenai masalah-masalah telah dianggap sebagai salah satu faktor yang membuat sebuah drama itu Seni, ketimbang sebuah hiburan.

Akhirnya, Ibsen kembali ke Norwegia pada 1891, namun Norwegia telah jauh berubah sejak ditinggalkannya. Memang, ia telah memainkan peranan besar dalam menghasilkan perubahan-perubahan yang terjadi di seluruh lapisan masyarakat Norwegia. Zaman Victoria berada pada tahap akhirnya, dan segera akan digantikan oleh bangkitnya Modernisme bukan hanya dalam teater, melainkan juga dalam kehidupan masyarakat.

Ibsen meninggal dunia di Christiania pada 23 Mei 1906 setelah mengalami serangkaian stroke. Ketika perawatnya mencoba meyakinkan seseorang yang menjenguknya, dengan mengatakan bahwa kesehatannya membaik, Ibsen malah membantah "Justru sebaliknya" lalu meninggal dunia.

Pada 2006 peringatan 100 tahun kematian Ibsen diselenggarakan di Norwegia dan banyak negara lainnya. Tahun itu dinyatakan oleh pemerintah Norwegia sebagai "Tahun Ibsen".

Daftar karyanya

Puisi


Konstantin Stanislavski

Konstantin Stanislavski

Konstantin (Constantin) Sergejevitch Stanislavski (Stanislavsky) (bahasa Rusia Константин Сергеевич Станиславский}}; 5 Januari 18637 Agustus 1938) adalah seorang inovator teater dan seni peran Rusia.

Biografi

Stanislavski dilahirkan dengan nama Konstantin Sergeievich Alexeyev di Moskwa dalam sebuah keluarga kaya. Pertama kali ia tampil dalam seni peran pada usia 7 tahun. Ia mengambil nama panggung Stanislavski pada awal kariernya (kemungkinan untuk menjaga reputasi keluarganya.) Dalam beberapa terjemahan, namanya ditulis "Konstantin Stanislavski".

Pada 1888, Stanislavski mendirikan Perhimpunan Seni dan Sastra di Teater Maly, dan di sana ia memperoleh pengalaman dalam estetika dan seni panggung.

Pada 1897 ia ikut mendirikan Teater Seni Moskwa (MKhAT) bersama Vladimir Nemirovich-Danchenko. Salah satu produksi pertama kelompok ini adalah Burung Camar karya Anton Chekhov. Di MKhAT inilah Stanislavski mulai mengembangkan, berdasarkan tradisi realis dari Aleksandr Pushkin, "Sistem"-nya yang termasyhur (seringkali disebut "Metode", meskipun sebutan ini tidak akurat; metode seni peran dikembangkan dari sini). "Sistem" ini belakangan diadaptasi oleh Lee Strasberg, Stella Adler, Robert Lewis, Sanford Meisner, dan banyak tokoh lainnya di Amerika Serikat. Sistem Stanislavski dipusatkan pada pengembangan watak dan dunia panggung yang realistis. Para aktor diajarkan untuk memanfaatkan "Memori Afektif" agar dapat secara wajar menggambarkan emosi seorang watak. Untuk melakukan hal itu, para aktor dituntut memikirkan sebuah momen dalma hidup mereka sendiri ketika mereka merasakan emosi yang diinginkan dan kemudian memainkan kembali emosi tersebut di dalam peran guna mencapai penampilan yang lebih sungguh-sungguh.

Metode Stanislavski mengembangkan sebuah pendekatan sistematis terhadap pelatihan para aktor untuk mengembangkan dari dalam dirinya ke luar.

Stanislavski mengusulkan agar para aktor mempelajari dan mengalami emosi-emosi dan perasaan-perasaan subyektif dan mewujudkannya kepada para penonton melalui sarana-sarana fisik dan vokal, yang juga dikenal sebagai Bahasa teater.

Stanislavski bertahan baik Revolusi Rusia tahun 1905 dan Revolusi Rusia tahun 1917, dengan Lenin yang tampaknya ikut campur untuk melindunginya. Pada 1918, Stanislavski mendirikan Studio Pertama sebagai sekolah untuk aktor muda dan menulis sejumlah karya. buku-buku yang ditulisnya dan terdapat dalam bahasa Inggris antara lain adalah: An Actor Prepares (diterjemahkan oleh Asrul Sani dengan judul "Persiapan Seorang Aktor"), Building a Character, Creating a Role, dan biografi My Life in Art.

Perbedaan-perbedaan antara sistem Stanislavski dan Metode Lee Strasberg

Sistem Stanislavski dapat pula disebut Metode Aksi Fisik yang berbeda dengan Metode Lee Strasberg yang sangat dipengaruhi oleh "Memori Afektif". Stanislavski mempunyai berbagai murid pada setiap tahap penemuan dan eksperimentasinya dengan Metode Universal seni peran. Salah seorang muridnya, Richard Boleslavsky mendirikan Laboratorium Teater Amerika pada 1925. Laboratorium ini mempunyai pengaruh yang sangat hebat terhadap seni peran Amerika, Lee Strasberg sebagai kepalanya. Boleslavsky terlibat dalam tahapan Stanislavski ketika ia bereksperimen dengan Memori Afektif. Teori Stanislavski belakangan berkembang hingga mengandalkan Aksi Fisik yang membangkitkan perasaan dan emosi. Memori Afektif diterapkan dalam Sistem Stanislavski tetapi tidak begitu banyak dalam Metode Lee Strasberg.

Stella Adler, satu-satunya orang Amerika yang belajar pada Stanislavski, diajari Metode Aksi Fisik di Paris selama 5 minggu pada 1934. Dengan pengetahuan yang baru ini ia datang kepada Strasberg dan memperkenalkan kepadanya Sistem/Metode Aksi Fisik yang baru. Lee Strasberg memahami perbedaan-perbedaannya tetapi menolak Metode Aksi Fisik. Ia percaya bahwa seni peran adalah mengenang kembail emosi. Karena itu Adler berkata tentang Strasberg "Ia sama sekali keliru."

Stanislavski meninggal pada 1938 sehingga antara 1934 ketika ia bertemud engan Stella Adler dan 1938 ia masih menemukan dan memperkeuat hal-hal baru di dalam Sistemnya.

Penting diingat bahwa Stanislavski selalu menganggap sistemnya seolah-olah sebuah daftar isi dari sebuah buku yang besar yang membahas segala aspek dari seni peran. Karyanya yang terakhir, kini dikenal sebagai Metode Aksi Fisik, sama sekali bukanlah penolakan terhadap minatnya yang lebih awal terhadap memori perasaan dan memori afektif. Ia sama sekali tidak pernah menolak pemahaman memori emosi; ia hanya menemukan cara-cara lain untuk mengakses emosi, antara lain keyakinan mutlak akan keadaan-keadaan tertentu; pelatihan imajinasi, dan penggunaan aksi fisik.

Ini sebetulnya tidak benar. Apa yang ditemukan Stanislavski adalah bahwa kebanyakan - memori perasaan dan memori afektif, ketimbang membebaskan si aktor, terlalu sering menimbulkan hasil-hasil yang negatif. Hal ini membuat para aktor tegang, lelah, dan histeris, dan seringkali menyebabkan ia secara emosional membeku. Dalam tulisan-tulisannya di kemudian hari ia percaya bahwa setiap upaya untuk membangkitkan perasaan harus dihindari.

Warisan

Jalan berliku yang panjang yang dimulai dengan sistem Stanislavski membaw kepada aktor dan aktris seperti Jack Nicholson, Marilyn Monroe, James Dean, Marlon Brando, Montgomery Clift, Harvey Keitel, Steve McQueen, Paul Newman, Warren Beatty, Geraldine Page, Dustin Hoffman, Robert De Niro, Al Pacino, Jane Fonda, dan masih banyak lagi. Yang lebih belakangan adalah Benicio Del Toro, Mark Ruffalo, Johnny Depp, dan Sean Penn.

Charlie Chaplin berkata, "Buku Stanislavki Persiapan Seorang Aktor, menolong semua orang untuk menjangkau seni dramatis yang besar. Buku ini mengajarkan apa yang dibutuhkan seorang aktor untuk membangkitkan ilham yang ia butuhkan untuk mengungkapkan emosi-emosi yang mendalam."

Sir John Gielgud berkata, "Sutradara ini menemukan waktu untuk menjelaskan seribu kali apa yang selalu menggangu para aktor dan mempesona para murid." Gielgud juga pernah berkata, "Buku Stanislavski yang kini terkenal adalah sumbangan kepada Teater dan siswa-sisanya di seluruh dunia."

Tujuan Stanislavski adalah menemukan sebuah Metode/Sistem Universal yang dapat menolong para aktor. Sebagai kesimpulan dari semuanya, Stanislavski berkata tentang Sistemnya, "Ciptakanlah metode anda sendiri. Jangan bergantung membabi buta pada metode saya. Ciptakanlah sesuatu yang menolong bagi anda! Tetapi saya mohon, patahkanlah terus tradisi."

William Shakespeare

(26 April 1564 - 23 April 1616, di Stratford-upon-Avon, Inggris) adalah seorang penulis Inggris yang seringkali disebut orang sebagai salah satu sastrawan terbesar Inggris. Ia menulis sekitar 38 sandiwara tragedi, komedi, sejarah, dan 154 sonata, 2 puisi naratif, dan puisi-puisi yang lain. Ia menulis antara tahun 1585 dan 1613 dan karyanya telah diterjemahkan di hampir semua bahasa hidup di dunia dan dipentaskan di panggung lebih daripada semua penulis sandiwara yang lain.

Kehidupan

Shakespeare lahir di Stratford-upon-Avon, Inggris, pada bulan April 1564, sebagai putra John Shakespeare dan Mary Arden. Ayah William cukup kaya ketika ia lahir dan memiliki bisnis pembuatan sarung tangan namun kemudian ia menjadi agak miskin setelah menjual wol secara ilegal. Shakespeare tidak mengikuti jejak ayahnya.

Pada jaman itu, sekolah umum baru dimulai di Inggris. Sebelumnya, hampir semua anak tidak tahu cara membaca dan menulis, mereka hanya belajar suatu ketrampilan atau bertani. Shakespeare pergi ke salah satu sekolah umum yang baru ini. Ia belajar Latin, yang merupakan bahasa semua kaum terpelajar, tidak peduli dari negara mana mereka berasal. Dari London ke Lisbon, dari Aleksandria ke Konstantinopel, dari Tunis ke Yerusalem, semua orang terpelajar berbicara Latin dan bahasa ibu mereka. Semua dokumen penting, baik dokumen negara, gereja, atau perdagangan, ditulis menggunakan Latin.

Shakespeare juga mempelajari karya-karya para penulis dan filosofer dari Yunani Kuno dan Romawi. Lebih dari 100 tahun berlalu sejak Yohanes Gutenberg memperkenalkan percetakan ke Eropa pada tahun 1452. Shakespeare dan orang Inggris lain yang dapat membaca ─ dan mampu membeli ─ buku-buku menjadi akrab dengan kisah-kisah dari berbagai tempat seperti Italia, Perancis, Asia Minor, dan Afrika Utara. Beberapa kisah-kisah ini menjadi dasar cerita-cerita terbesar Shakespeare. Contohnya, The Golden Ass karya Apuleius, sebuah kisah kuno dari Afrika Utara, kemungkinan merupakan kisah yang menginspirasikan Impian di Tengah Musim. Shakespeare meminjam cerita untuk Romeo dan Juliet dari seorang penulis Inggris lain, yang mendapatkannya dari seorang penulis Perancis, yang menterjemahkannya dari kisah abad ke-16 oleh Luigi da Porta dari Italia yang bersumpah bahwa cerita tersebut adalah berdasarkan cerita nyata.

Di dalam dunia Shakespeare, terdapat susunan-susunan yang telah diterima secara umum. Hampir semua orang di Inggris adalah Kristen. Di hierarki terbawah terdapat kaum pekerja, di atasnya para petani dan pedangang, lalu para pendeta dan pengawal, lalu naik lagi para ksatria, tuan tanah, uskup agung, dan para adipati. Sang monarki bertahta di puncak tatanan sosial. Di Inggris, monarki tersebut adalah Ratu Elizabeth I (yang dilanjutkan dengan kemenakannya, James I).

Elizabeth I memerintah Inggris hampir selama hidup Shakespeare. Pada jaman tersebut tidak ada peperangan. Diplomasi sang ratu membuat kedua seterunya Perancis dan Spanyol terjaga seimbang. Perdagangan berkembang. London menjadi kota yang padat, ramai, dan penuh dengan peluang. Rumah-rumah sandiwara dibangun di London; teater-teater tersebut adalah tempat yang populer dikunjungi masyarakat.

Sistem kelas pada jaman Shakespeare dapat saja sudah memiliki susunan-susunan, namun hal tersebut tidak statis. Orang-orang mulai berpikir tentang mereka sendiri. Shakespeare hidup di jaman Renaissans yang berarti "kelahiran kembali" yang terjadi pada abad ke-15 hingga abad ke-17 di Eropa.

Renaissans Eropa menghidupkan kembali pembelajaran klasik. Pada jaman tersebut terdapat gerakan kebangkitan minat terhadap seni, musik, dan arsitektur. Suatu dunia yang tua dan stagnan tiba-tiba berubah menjadi hidup dan vibran. Meskipun hampir semua orang percaya bahwa susunan matahari, bulan, bintang, dan planet mempengaruhi nasib mereka, beberapa orang mulai merubah cara berpikir mereka tentang diri mereka dan dunia yang mereka tinggali. Mereka mulai memahami kekuasaan dan posisi pemerintahan diciptakan oleh manusia, bukan ditentukan oleh Tuhan sejak lahirnya. Mereka menyadari bahwa kekristenan bukanlah satu-satunya agama di dunia. Dan karena banyak di antara mereka mulai dapat membaca, maka banyak juga yang tidak ingin tinggal di kelas sosial tempat mereka dilahirkan. Banyak petualang Renaissans menggunakan cara mereka sendiri-sendiri untuk mencari rejeki dan mengembangkan kehidupan mereka. Shakespeare adalah salah satu dari orang-orang tersebut.

Pada awal 1590an, William Shakepseare mengokohkan dirinya sebagai seorang penulis sandiwara dan aktor di London. Selain itu, ia juga memiliki bagian dari rumah sandiwara tempat ia dan teman-temannya bermain. Itu mungkin adalah sumber penghasilannya. Shakespeare menikahi Anne Hathaway, yang delapan tahun lebih tua daripadanya, pada tanggal 28 November 1582 di Temple Grafton, dekat Stratford. Anne kala itu hamil tiga bulan. Bersama-sama mereka dikaruniai tiga anak: Susanna, dan si kembar Hamnet dan Judith. Istri dan ketiga anaknya tinggal di Stratford, dan kemungkinan besar Shakespeare pergi mengunjungi mereka setahun sekali. Pada tahun 1596 Hamnet meninggal dunia. Karena kemiripan nama, banyak orang berpikir bahwa hal ini mengilhaminya untuk menulis The Tragical History of Hamlet, Prince of Denmark.

Shakespeare menjadi orang teater yang sangat terkenal, sangat populer, dan sangat kaya. Ratu Elizabeth I sangat menyukai karya-karyanya; begitu pula dengan Raja James I, penerusnya. Pada pemerintahan James I, Shakespeare dan kawan-kawan terkenal dengan sebutan "Orang-orang Raja" karena Raja James I adalah pengunjung mereka yang spesial. Shakespeare dan Orang-orang Raja bermain di istana kerajaan, di teater Globe dan di rumah sandiwara mereka, dan teater Blackfriars. Untuk mendapatkan lebih banyak uang, mereka juga mengadakan tur keliling Inggris, terutama pada saat-saat wabah penyakit menjangkit Inggris.

Orang-orang jaman Elizabeth tidak memandang pemain atau penulis sandiwara adalah pekerjaan yang terhormat. Pergi ke teater pada jaman tersebut tidak sama seperti pergi ke teater pada saat ini, hal itu lebih seperti pergi menonton pertandingan sepak bola!

Teater-teater jaman Elizabeth merupakan bangunan kayu yang bertingkat-tingkat. Para penonton duduk di ketiga sisi atau berdiri di tengah-tengah lantai. Bagian tengah teater terbuka atapnya karena pada jaman itu belum ada penerangan buatan. Ribuan orang berjejalan di teater untuk pertunjukan sore hari. Para penonton berteriak-teriak di belakang para aktor. Teater Globe adalah tempat yang padat pengunjung, bising, dan berjejal-jejalan.

Puluhan ribu orang yang memadati untuk melihat sandiwara Shakespeare akan dapat mendengar 1700 kata yang diciptakan oleh Shakespeare. Banyak kata-kata ciptannya yang saat ini masih digunakan. Contohnya: "deafening" (menulikan), " hush", " hurry" (lekas), " downstairs" (di bawah), " gloomy" (sedih), " lonely" (sendirian), " embrace" , " dawn" (senja). Ejaan yang digunakan Shakespeare pun berbeda dari jamannya. Orang-orang jaman Elizabeth mengeja kata-kata seperti yang tertulis, seperti Latin dan Indonesia. Tidak ada cara "yang benar" untuk mengeja. Orang-orang menulis suatu kata seperti ejaan yang mereka inginkan. Jika ingin menulis "me" (saya) tapi ingin memberikan penekanan pada kata tersebut, maka kata tersebut akan dituliskan "mee". Jika sang penulis ingin kata tersebut dibaca seperti orang berteriak dari atap rumah, makan kata tersebut akan dituliskan "Meee".

Dalam teks Shakespeare akan dijumpai kata "stayed" (tinggal) dieja "stay'd", karena Shakespeare ingin mengucapkan kata tersebut sebagai satu suku kata (baca: 'steid') seperti ejaan bahasa Inggris sekarang, bukan dua suku kata (baca: 'stei-ed'). Bahasa Inggris modern banyak menggunakan penulisan dari jaman dahulu namun dengan menggunakan ejaan yang baru. Contohnya kata "knight" (ksatria) dulunya dieja sama seperti tulisannya (baca: 'k-ni-gh-t' 4 suku kata). Di dalam budaya oral seperti jaman Shakespeare, orang-orang mempedulikan detil intonasi, nada suara, dan bunyi yang ditimbulkan pada waktu mereka berbicara sehingga bahasa lisan yang digunakan lebih kaya pada jaman dahulu daripada jaman sekarang.

William Shakespeare menulis selama dua puluh lima tahun, menciptakan tiga puluh enam hingga tiga puluh sembilan karya yang diketahui hingga saat ini. Topik yang dicakup beragam mulai dari romans komik hingga perang saudara, dari permainan domestik hingga kejadian politis yang menggegerkan dunia. Namun tiga hal yang mendasari seluruh karyanya adalah pertanyaan-pertanyaan: Apa artinya untuk hidup? Bagaimana cara kita hidup? Apa yang harus ktia lakukan?

Sandiwara Shakespeare menawarkan pemahaman yang mendalam terhadap pertanyaan-pertanyaan tersebut. Itulah sebabnya mengapa ahli-ahli literatur mempelajari karyanya, politikus-politikus mengutipnya, filosofer-filosofer menemukan cara berpikir yang baru dari membaca dan membaca ulang karyanya. Mempelajari Shakespeare adalah seperti mempelajari hidup dari berbagai sudut pandang: psikologis, politis, filosofis, sosial, spiritual. Ritme yang digunakannya dalam kata-katanya terefleksi dalam ritme tubuh kita. Memainkan peranan sandiwara Shakespeare di panggung membuat seseorang menyadari seberapa dalam seseorang harus menarik napas supaya suaranya dapat terdengar sampai ujung ruangan.

Shakespeare berhenti menulis pada tahun 1611 dan meninggal dunia beberapa tahun kemudian pada 1616. Sampai wafatnya ia tetap menikah dengan Anne. Pada batu nisannya tertulis: "Blest be the man who cast these stones, and cursed be he that moves my bones." (bahasa Indonesia: "Terbekatilah ia yang menaruh batu-batu ini, dan terkutuklah ia yang memindahkan tulang-tulangku.")

Tulisan

Shakespeare menulis tentang keadaan manusia yang sangat manusiawi. Ia memahami apa yang hampir semua orang ingini: untuk menyayangi orang lain, dan disayangi oleh orang lain; makan, minum, dan tidur dengan tenang; untuk hidup di tengah dunia yang besar dan memiliki arti di dalam hidup. Shakespeare juga memahami bahwa manusia memiliki kelemahan-kelemahan yang terkadang jauh dari rencana-rencana mereka yang terhormat (atau tidak terhormat). Shakespeare adalah seorang jenius yang menunjukkan pada kita diri kita sesungguhnya.

Hamlet


Karya lengkap William Shakespeare

Tragedi

Antonius dan Cleopatra | Coriolanus | Hamlet | Julius Caesar | Macbeth | Othello | Raja Lear | Romeo dan Juliet | Timon dari Athena | Titus Andronicus | Troilus dan Cressida

Komedi

A Midsummer Night's Dream | All's Well That Ends Well | As You Like It | The Comedy of Errors | Cymbeline | Love's Labour's Lost | Malam Keduabelas | Measure for Measure | The Merry Wives of Windsor | Much Ado About Nothing | Pedagang dari Venezia | Perikles, Pangeran dari Tirus | Taming of the Shrew | The Tempest | The Two Gentlemen of Verona | The Two Noble Kinsmen | The Winter's Tale

Sejarah

Raja John | Richard II | Henry IV, Bagian 1 | Henry IV, Bagian 2 | Henry V | Henry VI, bagian 1 | Henry VI, bagian 2 | Henry VI, bagian 3 | Richard III | Henry VIII

Puisi

Sonata Shakespeare | Venus dan Adonis | Pemerkosaan Lucrece | The Passionate Pilgrim | The Phoenix and the Turtle | A Lover's Complaint

Apokripa

Edward III | Sir Thomas More | Cardenio (hilang) | Love's Labour's Won (hilang) | Kelahiran Merlin | Locrine | The London Prodigal | The Puritan | The Second Maiden's Tragedy | Richard II, Bagian I: Thomas dari Woodstock | Sir John Oldcastle | Thomas Lord Cromwell | Tragedi Yorkshire | Fair Em | Mucedorus | The Merry Devil of Edmonton | Arden dari Faversham | Edmund Ironside

Karya lain

Shakespeare dalam film | Judul-judul berdasarkan Shakespeare | Tokoh-tokoh | Problem Dramas | Ghost characters | Reputasi | Kata-kata baru | Pengaruh terhadap Bahasa Inggris | Masalah Pengarang


Eric Arthur Blair

Penulis; pengarang, jurnalis

George Orwell (nama asli: Eric Arthur Blair; Motihari, Bengal, India, 25 Juni 1903Sutton Courtenay, Oxfordshire, Inggris, 21 Januari 1950) adalah sastrawan Inggris yang terkenal dengan karyanya Nineteen Eighty-Four dan Animal Farm.

Biografi

Kehidupan awal

Eric Arthur Blair lahir pada 25 Juni 1903 dari orangtua kelahiran Inggris di Motihari, Bengal, India. Ayahnya, Richard Walmesley Blair, bekerja di Departemen Opium di Layanan Sipil. Ibunya, Ida Mabel Blair (nee Limouzin), membawanya ke Inggris pada saat dia berumur satu tahun. Dia tak bertemu dengan ayahnya lagi hingga tahun 1907, saat Richard berkunjung ke Inggris selama tiga bulan. Eric memiliki dua saudari; Majorie, saudari tuanya, dan Avril, yang muda. Dia menyebut keluarganya sebagai kelas menengah-atas-bawah.

Pendidikan

Pada umur enam tahun, Eric masuk Anglican parish school (sekolah parish Anglikan) di Henley-on-Thames, di mana dia memukau para gurunya. Ibunya menginginkan dia untuk mendapat pendidikan umum yang baik, tapi kondisi keuangan keluarganya tidak dapat memenuhinya kecuali dia mendapatkan beasiswa. Saudara ibunya, Charles Limouzin yang tinggal di Pantai Selatan, merekomendasikan St Cyprian's School, Eastbourne, Sussex. Kepala sekolahnya turut membantu Blair untuk mendapatkan beasiswa, dan membuat perjanjian finansial privat yang membolehkan orangtua Blair membayar hanya setengah dari biaya normal. Di sekolah, Blair membuat ikatan persahabatan yang bertahan lama dengan Cyril Connolly (nantinya menjadi editor majalah Horizon, yang kemudian menerbitkan banyak esai-esai Blair). Bertahun-tahun kemudian Blair mengingat masa sekolahnya dengan "mordant" dalam esai "Such, Such Were the Joys". Bagaimanapun, selama di sekolah itu, dia menulis dua puisi yang diterbitkan di surat kabar lokal, dan mendapatkan juara ke-dua pada Harrow History Prize. Karyanya mendapatkan pujian dari penilik eksternal sekolah dan mendapatkan beasiswa ke Wellington dan Eton.

Setelah menjalani satu termin di Wellington College, Blair pindah ke Eton College dengan beasiswa King (King's Scholar), dan Aldous Huxley sebagai tutor Bahasa Perancisnya. Kemudian, dia menulis tentang bagaimana dia cukup bahagia di Eton, karena membiarkan siswanya mendapat cukup kebebasan; namun dia sempat menghentikan membuat karya-karya serius di sana. Rapor akademiknya berserta alasannya, bervariasi. Dengan nilai yang buruk berarti dia tidak bisa melanjutkan ke Universitas; jika Blair muda mendaftarkan diri ke universitas, hampir pasti Ia bisa masuk ke Oxbridge.

Hari-hari di Burma

Pada saat Ia menyelesaikan sekolah di Eton, keluarganya tidak bisa membiayai kuliah di universitas; ayahnya berpendapat prospek beasiswanya sangat kecil, maka pada 1922 Eric Arthur Blair bergabung dengan Polisi Imperial India, bertugas di Katha dan Moulmein di Burma. Kehidupan sebagai polisi imperial membuat Blair kemudian membenci imperialisme; ketika pergi ke Inggris, dia mengundurkan diri dari Kepolisian Imperial India pada 1927 untuk menjadi penulis.

Pengalaman sebagai polisi Burma melahirkan novel Burmese Days (1934) dan esai "A Hanging" (1931) dan "Shooting an Elephant" (1936). Di Inggris, dia menulis pada kenalan keluargaya, Ruth Pitter, kemudian lewat Ruth dan seorang temannya Blair berhasil mendapat kamar tinggal di Portobello Road (sekarang sebuah plakat biru menyatakan Blair pernah tinggal di sana), di mana dia mulai menulis.

Jatuh bangun di Paris dan London

Dia pindah ke Paris pada musim semi 1928, di mana bibinya, Nellie tinggal, berharap untuk mendapatkan penghidupan sebagai penulis lepas; kegagalan menyebabkannya untuk menjalani pekerjaan rendahan seperti pencuci piring di Hotel X, di rue de Rivoli pada 1929. Semuanya diceritakan dalam "Down and Out in Paris and London". Catatan mengenainya tidak mengatakan apakah Ia telah memiliki ide mengenai buku tersebut sebagai terminus dari pengalaman-pengalaman hidup rendahan tersebut atau tidak.

Pada akhir 1929 dia kembali ke Inggris, ke rumah orangtuanya di Southwold, Suffolk, dalam keadaan sakit dan tak memiliki uang, di mana dia menulis "Burmese Days", dan juga secara rutin berusaha untuk menggelandang sebagai upaya melakukan penelitian bukunya tentang kehidupan orang-orang termiskin di masyarakat. Sementara itu, dia secara teratur menjadi kontributor di majalah New Adelphi yang dikelola John Middleton Murry.

Bekerja keras dalam membuat karya tulis (pada masa ini Blair menulis terus-menerus: ulasan buku, artikel, puisi, novel (Burmese Days), Blair gagal membuat novel "Down and Out in Paris and London" terbit, sementara Ia membutuhkan uang untuk hidup. Pada tahun 1932 Ia kemudian mengambil pekerjaan sebagai kepala sekolah sekaligus mengajar di The Hawthornes, Hayes, Middlesex. Kehidupan politik, sosial dan kepenulisan di Inggris tahun 30-an dipenuhi oleh masalah pengangguran, Blair sendiri mengambil pekerjaan tersebut untuk tidak jatuh miskin. [1]

Tanpa diketahui Blair, manuskrip "Down and Out in Paris and London" yang diberikan kepada seorang teman untuk dihancurkan malah dikirim ke agen kepenulisan Leonard Moore yang kemudian menawarkannya ke Victor Gollancz, dari pihak penerbit. Novel tersebut disetujui untuk diterbitkan dengan revisi. Kepada agennya Blair menulis surat bahwa Ia menginginkan pseudonim karena Ia merasa "tidak puas" dengan karya tersebut. Ia kemudian menyarankan empat pseudonim: P. S. Burton (nama yang biasa Ia gunakan ketika menggembel), Kenneth Miles, George Orwell, dan H. Lewis Allways. "Saya lebih menyukai George Orwell," tambah Blair dalam suratnya. Karena penerbitnya sependapat, maka lahirlah nama George Orwell. "Down and Out in Paris and London" terbit pada Januari 1933. [1]

Sebagai seorang penulis, George Orwell menuliskan hidupnya sebagai seorang guru di Southwold untuk novel "A Clergyman's Daughter" (1935). Novel yang ditulis tahun 1934 di rumah orangtuanya itu dikerjakan setelah Ia menderita sakit dan orangtua yang mendesaknya untuk meneruskan kehidupannya sebagai pengajar. Dari akhir 1934 hingga awal 1936, dia bekerja sebagai asisten paruh waktu di Booklover's Corner, sebuah toko buku bekas di Hampstead. Mengalami kesendirian dan kesepian, dia ingin menikmati kehadiran penulis muda untuk menemani, dan pengalaman-pengalaman tersebut kemudian berkembang menjadi sebuah novel berjudul "Keep the Aspidistra Flying (novel)|Keep the Aspidistra Flying" (1936).

Perang Sipil Spanyol dan Catalonia

Pada Desember 1936 Blair berangkat ke Spanyol untuk bergabung dengan pihak Republikan dalam Perang Sipil Spanyol. Perang sipil yang pecah pada Juli 1936 tersebut bermula ketika Jenderal Franco memimpin sebuah kudeta militer untuk menggulingkan pemerintah yang telah dipilih secara demokratis --yang merupakan sebuah koalisi kelompok liberal, sosialis, anarkis, dan komunis-- dengan kekerasan.

Peninggalan

Kritik sastra

Selama hidupnya, Orwell secara terus menerus menopang hidupnya sebagai pengulas buku, pekerjaan menulis yang begitu lama dan menakjubkan sehingga mempengaruhi dunia kritik sastra. Dalam kesimpulan perayaan esainya tahun 1940 tentang Charles Dickens, seseorang mungkin akan melihat Orwell sendiri dengan:

"Ketika seseorang membaca karya seseorang yang begitu kuat, seseorang memiliki impresi bahwa Ia melihat wajah di suatu tempat di belakang halaman yang Ia baca. Tidak harus wajah si penulis. Aku merasakan hal ini dengan begitu kuat ketika membaca (karya) Swift, Defoe, Fielding, Stendhal, Thackeray, Flaubert, meskipun dalam beberapa kasus Aku tidak tahu bagaimana rupa orang-orang ini dan tidak mau tahu. Apa yang seorang lihat adalah wajah yang harus dimiliki si penulis. Tapi, dalam kasus Dickens Aku melihat wajah yang sepertinya bukan wajah dalam foto Dickens, walaupun menyerupai. Yang kulihat adalah wajah seorang laki-laki berusia empat puluh tahunan, dengan sedikit janggut dan warna terang. Lelaki itu tertawa, dengan sedikit nada amarah dalam tawanya, tapi tanpa rasa kemenangan. Itu adalah wajah seorang lelaki yang selalu melawan suatu hal, namun yang melawan secara terbuka dan tidak takut, wajah lelaki yang begitu marah -- dalam lain kata, seorang liberal abad ke-19, seorang intelektual yang bebas, tipe yang dibenci dengan rasa benci yang sama oleh semua ortodoksi kecil busuk yang saat ini berputar-putar merasuki jiwa kita."

Aturan untuk penulis

Dalam "Politics and the English Language," George Orwell memberikan enam aturan untuk penulis:

  • Jangan pernah gunakan metafora, simile, atau ungkapan yang biasa kita lihat pada karya cetak.
  • Jangan pernah gunakan kata panjang jika bisa menggunakan kata pendek.
  • Jika mungkin menghapus sebuah kata, hilangkanlah.
  • Jangan pernah gunakan suara pasif ketika kita bisa gunakan bentuk aktif.
  • Jangan pernah gunakan frase bahasa asing, istilah saintifik, atau jargon jika kita bisa menemukan persamaannya dalam bahasa Inggris sehari-hari.
  • Langgarlah aturan-aturan ini secepatnya daripada mengatakan sesuatu dengan barbar.

Bibliografi


George Bernard Shaw

Penulis sandiwara, kritikus, aktivis politik

Kebangsaan Irlandia

Aliran Satire

Penghargaan terkenal Templat:Awd

(George) Bernard Shaw[1] (lahir Dublin, 26 Juli 1856 – meninggal 2 November 1950 di Hertfordshire) adalah novelis, kritikus, esaias, politikus, dan orator Irlandia yang menetap di Inggris. Pada 18 Desember 1926[2], ia menolak hadiah uang ketika menerima Nobel Kesusasteraan (pada 1925) dan Academy Award for Writing Adapted Screenplay (pada 1938 untuk Pygmalion).

Saat menerima penghargaan dalam acara itu, ia mengatakan, "Aku bisa memaafkan Alfred Nobel atas penemuan dinamit, tapi hanya iblis dalam sosok manusia yang bisa menerima Hadiah Nobel. Padahal, ia yang lebih dikenal sebagai dramawan, memulai karier dalam kondisi frustasi akibat kemiskinan.

Catatan

  1. ^ Shaw tidak pernah menggunakan nama pertamanya "George" secara pribadi atau secara profesional dan sangat tidak suka dipanggil George. Ia lebih dikenal sebagai "Bernard Shaw" sepanjang karirnya. Nama lengkapnya digunakan dalam berbagai referensi sejak kematiannya.


Samuel Barclay Beckett

Nama pena Andrew Belis (Recent Irish Poetry)

Pekerjaan Novelis, penyair, penulis cerita pendek, sandiwara,

dan esai

Kebangsaan Irlandia

Aliran Drama, prosa

Gerakan Postmodernisme, Theatre of the Absurd

Penghargaan terkenal Templat:Awd

Samuel Barclay Beckett (13 April 190622 Desember 1989) dilahirkan di Dublin, Irlandia. Ia adalah penulis buku, drama, dan puisi. Ia juga menerjemahkan banyak karya sastra terkenal lainnya. ia dianugerahi Hadiah Nobel Sastra pada 1969.

Dramanya yang paling terkenal ialah Waiting For Godot (Menunggu Godot). Sering dipentaskan di panggung dan ditayangkan di TV.

Banyak dramatiwan dan sastrawan lainnya berpendapat bahwa ia adalah penulis terpenting di abad ke-20. Banyak buku tentang dia yang telah ditulis.

Bibliografi terpilih

Karya-karya dramatis

Teater

Radio

  • All That Fall (1956)
  • Embers (1959)
  • Rough for Radio I (1961)
  • Rough for Radio II (1961)
  • Words and Music (1961)
  • Cascando (1962)

Televisi

Film

Film (1965)What Where (1983)

Prosa

Novel

Novela

Puisi

  • Whoroscope (1930)
  • Echo's Bones and other Precipitates (1935)
  • Collected Poems in English (1961)
  • Collected Poems in English and French (1977)
  • What is the Word (1989)

Cerita

  • More Pricks Than Kicks (1934)
  • Stories and Texts for Nothing (1954)
  • First Love (1973)
  • Fizzles (1976)
  • Stirrings Still (1988)

Non fiksi

  • Disjecta (1983)

Terjemahan

  • Negro: an Anthology (Nancy Cunard, editor) (1934)
  • Anna Livia Plurabelle (James Joyce, terjemahan Perancis oleh Beckett, dll.) (1931)
  • Anthology of Mexican Poems (Octavio Paz, editor) (1958)
  • The Old Tune (Robert Pinget) (1963)
  • What Is Surrealism?: Selected Essays (André Breton) (berbagai tulisan singkat dalam kumpulan)


Anton Pavlovich Chekhov

Cerpenis, dramawan

Anton Pavlovich Chekhov (Анто́н Па́влович Че́хов) (29 Januari 186015 Juli 1904) (Kalender Julian: 17 Januari 18602 Juli 1904) adalah seorang penulis besar Rusia yang terkenal terutama karena cerpen-cerpen dan dramanya. Banyak dari cerpennya dianggap sebagai apotheosis dari bentuk sementara dramanya, meskipun hanya sedikit - dan hanya empat yang dianggap besar - mempunyai dampak yang besar dalam literatur dan pertunjukan drama.

Chekhov lebih dikenal di Rusia modern karena ratusan cerpennya, dan banyak di antaranya dianggap merupakan adikarya dalam bentuk karangan tersebut. Namun demikian drama-dramanya juga memberikan pengaruh yang mendalam terhadap drama abad ke-20. Dari Chekhov, banyak pengarang drama kontemporer belajar bagaimana memanfaatkan suasana hati, hal-hal yang kelihatannya tidak berarti dan inaksi (berdiam diri) untuk menyoroti psikologi batin para tokohnya. Keempat drama utama Chekhov - Burung Camar, Paman Vanya, Tiga Saudari, dan Kebun Ceri—seringkali ditampilkan kembali dalam pementasan-pementasan modern.

Kehidupan

Masa muda

Anton Chekhov dilahirkan di Taganrog, sebuah pelabuhan kecil di desa kecil di Laut Azov, di Rusia selatan pada 29 Januari 1860. Ayahnya seorang pedagang kebutuhan sehari-hari, yang mempunyai kedudukan resmi sebagai Pedagang dari Gilda Ketiga - купeц 3й гильдии) dan kakeknya seorang petani dalam sistem feodal yang berhasil membeli kebebasannya. Anton adalah anak ketiga dari enam bersaudara.

Katedral Kenaikan di Taganrog, Rusia, tempat Anton Chekhov dibaptiskan pada 10 Februari 1860.

Anton belajar di sekolah untuk anak-anak Yunani di Taganrog (1866-1868), dan pada usia delapan tahun ia dikirim ke Gimnasium untuk anak-anak lelaki di Taganrog. Anton adalah seorang murid yang rata-rata. Ia agak pemalu dan tidak suka menonjolkan diri, namun ia terkenal karena sering memberikan komentar-komentar satir, karena sering berulah, dan membuat nama-nama julukan yang lucu-lucu untuk guru-gurunya. Ia senang tampil dalam teater-teater amatir dan sering pula menghadiri pertunjukan-pertunjukan di teater desa. Di masa remajanya ia mencoba mengarang berbagai "anekdot" singkat, cerita-cerita lucu ataupun yang menggoda, meskipun ketika itu ia juga dikenal pernah menulis drama panjang yang serius, "Anak piatu", yang kemudian dihancurkannya.

Anton Chekhov jatuh cinta dengan teater dan sastra sejak masa kanak-kanak. Pertunjukan pertama yang ia tonton adalah opereta Elena si Cantik karya Jacques Offenbach di panggung Teater Kota Taganrog pada 4 Oktober 1873. Anton saat itu seorang murid Gimnasium yang berusia 13 tahun, dan sejak saat itu ia menjadi pencinta besar teater. Ia menghabiskan praktis semua tabungannya untuk teater. Kursi favoritnya di teater itu adalah barisan belakang karena murah (40 kopek perak), dan karena murid-murid Gimnasium membutuhkan izin khusus untuk masuk ke teater. Seringkali izin tidak diberikan dan kebanyakan hanya untuk hari-hari biasa. Kadang-kadang Chekhov dan teman-temannya sesama murid sekolah menyamar dan bahkan mengenakan make up, kacamata atau janggut palsu, untuk menipu staf sekolah biasa yang memeriksa kalau-kalau ada murid yang menonton tanpa izin.

Ibu si pengarang, Yevgeniya, adalah seorang juru cerita yang hebat, dan Chekhov diduga memperoleh bakatnya untuk bercerita dan belajar membaca dan menulis daripadanya. Ayahnya, Pavel Yegorovich Chekhov, seorang yang sangat berdisiplin dan fanatik, menuntut semua anaknya mengabdikan diri kepada Gereja Ortodoks Timur dan bisnis keluarganya. Pada 1875, ketika terancam bangkrut, ia terpaksa melarikan diri dari para kreditur ke Moskwa, tempat kedua anak sulungnya belajar di universitas. Selama beberapa tahun berikutnya keluarganya hidup dalam kemiskinan.

Anton tetap tinggal di Taganrog selama tiga tahun berikutnya untuk menyelesaikan sekolahnya. Ia berusaha mencukupi kebutuhannya dengan memberikan les privat, menjual barang-barang rumah tangga, dan belakangan, bekerja di gudang pakaian. Pada 1879, Chekhov menyelesaikan sekolahnya di gimnasium dan bergabung dengan keluarganya di Moskwa, setelah ia diteima di sekolah kedokteran di Universitas Negara Moskwa.

Tulisan-tulisan awal

Untuk mendukung keluarganya, Chekhov mulai mengarang cerita-cerita pendek, sketsa humor dan vignet dari kehidupan Rusia masa itu, banyak di antaranya dengan menggunakan pseudonim seperti misalnya Antosha Chekhonte (Антоша Чехонте), Laki-laki tanpa perasaan (Человек без селезенки), dan lain-lain. Karyanya yang pertama diterbitkan muncul di mingguan St Petersburg Strekoza (Стрекоза, "Capung") pada Maret, 1880. Tidak diketahui berapa banyak cerita yang ditulis Chekhov selama periode ini, namun ia dengan cepat menjadi penulis yang matang. Ia segera mendapatkan reputasi sebagai penulis satir kehidupan jalanan Rusia.

Nicolas Leykin, salah seorang penerbit terkemuka pada mas aitu dan pemilik Oskolki (Осколки, "Fragmen-fragmen"), yang kepadanya Chekhov mulai memasukkan karya-karyanya yang lebih indah, mengenali bakat si penulis namun membatasi prosa Chekhov, hanya pada sketsa-sketsa sepanjang satu setengah halaman. Sebagian percaya bahwa batasan inilah yang mengembangkan ciri khas gaya penulisan Chekhov yang ringkas padat.

Chekhov lulus sebagai dokter pada 1884, namun tetap menulis untuk terbitan-terbitan mingguan dan pada 1885 mulai mengirimkan tulisannya ke Peterburgskaya Gazeta ("Gazeta Petersburg") karya-karya yang lebih panjang dan sifatnya lebih serius. Leykin menolak karya-karya ini. Pada Desember 1885 ia diundang untuk menulis untuk salah satu koran yang paling dihormati di St Petersburg, Novoye vremya (Новое Время, "Zaman Baru"), yang dimiliki dan disunting oleh milyuner Alexey Suvorin. Pada 1886 Chekhov sudah menjadi penulis terkenal, namun ia masih menganggap mengarang sebagai hobi.

Dmitrii Grigorovich, salah seorang dari banyak penulis yang tertarik pada cerita-cerita Chekhov, membujuknya agar ia lebih serius dengan bakatnya. Dalam suatu tahun yang sangat produktif, Chekhov menulis lebih dari seratus cerita pendek dan menerbitkan kumpulannya yang pertama, "Aneka Cerita" {Pestrye rasskazy) dengan dukungan dari Suvorin, dan pada tahun berikutnya kumpulan cerita pendeknya "Di Kala Senja" (V sumerkakh) memenangkannya Penghargaan Pushkin yang sangat diincar. Ini menandai awal kariernya yang sangat produktif sebagai pengarang.

Tahun-tahun kematangan

Pada akhir 1880-an, Chekhov tertulari tuberkulosis dari pasiennya. Pada 1887, dipaksa oleh beban kerja yang berlebihan dan kesehatannya yang memburuk, Chekhov melakukan perjlanaan ke Ukraina timur. Sekembalinya, ia mulai menulis cerita pendeknya yang panjang, Steppa (Step), yang akhirnya diterbitkan dalam sebuah jurnal sastra yang serius, Severny vestnik ("Utusan Utara"). Cerita pendek ini menandai puncaknya yang baru sebagai pengarang, karena karyanya diterbitkan dalam sebuah terbitan terkemuka pada masa itu dan menunjukkan kematangan yang membedakan fiksinya yang belakangan.

Produksi pertama "Burung Camar", yang ditampilkan pertama kali pada 17 Oktober 1896, di St. Petersburg, merupakan bencana bagi Chekhov. Pada malam pembukaannya, penonton mengharapkan sebuah komedi, dan kelompok sandiwara itu hanya punya sembilan hari untuk berlatih. Ejekan dan cemooh menyambut monolog Nina pada akhir Babak I. Begitu kecewanya Chekhov sehingga ia menulis, "Saya tidak akan pernah melupakan kejadian semalam... saya tidak akan pernah menampilkan sandiwara itu di Moskwa, tidak akan pernah. TAK PERNAH lagi saya menulis atau menampilkannya lagi." (Secara kebetulan, para penonton pada malam ke-2 dan ke-3 lebih menghargainya, namun Chekhov tidak memedulikannya.)

Setelah produksi kedua Burung Camar (dan suksesnya yang pertama) oleh Teater Seni Moskwa, pada 1898, ia menulis tiga buah drama lagi untuk kelompok yang sama: Paman Vanya, Tiga Saudari dan Kebun Ceri. Pada 1901 ia menikah dengan Olga Leonardovna Knipper (1870-1959), seorang aktris yang bermain dalma drama-dramanya.

Karya-karyanya

Drama

Non fiksi

  • Perjalanan ke Sakhalin (1895), termasuk:
    • Pulau Saghalien [atau Sakhalin] (1891-1895)
    • Melintasi Siberia
  • Surat-surat

Cerita pendek

Banyak dari cerita-cerita yang lebih awal ditulis dengan nama samaran "Antosha Chekhonte".

  • "Intrigues" (1879-1884) - sembilan cerita
  • "Late-Blooming Flowers" (1882)
  • "The Death of a Government Clerk" (1883) (difilmkan di Indonesia oleh Syuman Djaya dengan judul "Si Mamad")
  • "The Swedish Match" (1883)
  • "Lights" (1883-1888)
  • "Oysters" (1884)
  • "Perpetuum Mobile" (1884)
  • A Living Chronology (1885)
  • "Motley Stories" ("Pëstrye Rasskazy") (1886)
  • "Excellent People" (1886)
  • "Misery" (1886)
  • "The Princess" (1886)
  • "The Scholmaster" (1886)
  • "A Work of Art" (1886)
  • "Hydrophobia" (1886-1901)
  • "At Home" (1887)
  • "The Beggar" (1887)
  • "The Doctor" (1887)
  • "Enemies" (1887)
  • "The Examining Magistrate" (1887)
  • "Happiness" (1887)
  • "The Kiss" (1887)
  • "On Easter Eve" (1887)
  • "Typhus" (1887)
  • "Volodya" (1887)
  • "The Steppe" (1888) - memperoleh Penghargaan Pushkin
  • "An Attack of Nerves" (1888)
  • "An Awkward Business" (1888)
  • "The Beauties" (1888)
  • "The Swan Song" (1888)
  • "Sleepy" (1888)
  • "The Name-Day Party" (1888)
  • "A Boring Story" (1889)
  • "Gusev" (1890)
  • "The Horse Stealers" (1890)
  • "The Duel" (1891)
  • "Peasant Wives" (1891)
  • "Ward No 6" (1892)
  • "In Exile" (1892)
  • "The Grasshopper" (1892)
  • "Neighbours" (1892)
  • "Terror" (1892)
  • "My Wife" (1892)
  • "The Butterfly" (1892)
  • "The Two Volodyas" (1893)
  • "An Anonymous Story" (1893)
  • "The Black Monk" (1894)
  • "The Head Gardener's Story" (1894)
  • "Rothschild's Fiddle" (1894)
  • "The Student" (1894)
  • "The Teacher of Literature" (1894)
  • "A Woman's Kingdom" (1894)
  • "Three Years" (1895)
  • "Ariadne" (1895)
  • "Murder" (1895)
  • "The House with an Attic" (1896)
  • "My Life" (1896)
  • "Peasants" (1897)
  • "In the Cart" (1897)
  • "The Man in a Case", "Gooseberries", "About Love" - the 'Little Trilogy' (1898)
  • "Ionych" (1898)
  • "A Doctor's Visit" (1898)
  • "The New Villa" (1898)
  • "On Official Business" (1898)
  • "The Darling" (1899)
  • "The Lady with the Dog" (1899)
  • "At Christmas" (1899)
  • "In the Ravine" (1900)
  • "The Bishop" (1902)
  • "The Bet" (1889)
  • "Betrothed" atau "A Marriageable Girl" (1903)
  • "Agafya"
  • "The Pipe"
  • "The Lottery Ticket"
  • "Verochka"

Novel

Aneka rupa

  • Ada sebuah kawah di Merkurius yang dinamai Chekhov untuk menghormatinya.

Drama-drama oleh Anton Chekhov

Platonov yang Tak Berguna · Bahaya Racun Tembakau · Ivanov · Orang Kasar · Pinangan · Pesta Pernikahan · The Wood Demon · Burung Camar · Paman Vanya · Tiga Saudari · Kebun Ceri